Harapan Petani Tebu di Jember Akan Pinjaman Lunak

Berikut ini penjelasan Direktorat Jenderal Perkebunan dan Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian mengenai harapan petani tebu di Jember;

Direktorat Jenderal Perkebunan (Direktorat Tanaman Semusim)

- Sumber pembiayaan pembangunan tebu selama ini yang dapat dimanfaatkan oleh petani adalah:

a.Dana KKP-E dengan luasan maksimal 4 ha per petani dengan pinjaman Rp. 50 juta per musim tanam dan besarnya bunga adalah 6% per musim. Dengan avails adalah Pabrik Gula.



b.Dana PMUK yang dikelola oleh Koperasi Petani Tebu Rakyat (KPTR) yang besarnya pinjaman dan bunga ditentukan oleh hasil rapat anggota (RAT) sebesar 6 – 7% (bunga jasa dan administrasi).

- Pemerintah pada tahun 2013 memberikan bantuan dalam bentuk natura (benih dan pupuk) sesuai dengan kegiatan yang dilaksanakan (Bongkar Ratoon).

- Berdasarkan dari pertanyaan terkait dengan usulan adanya dana talangan/pinjaman lunak untuk pengembangan tebu petani, maka informasi yang disampaikan bahwa besarnya bunga KKP-E dan Dana Guliran PMUK yang ada di KPTR masih lebih rendah dibandingkan dengan permintaan dana pinjaman lunak oleh petani pelapor sebesar 12%.

- Oleh sebab itu disarankan agar petani pelapor dapat bergabung dalam Koperasi Petani Tebu Rakyat (KPTR) di wilayah setempat untuk dapat mengakses dan memanfaatkan sumber pembiayaan dalam pengembangan tebu.

Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian

Pemerintah bekerjasama dengan perbankan sejak tahun 2000 sudah menyediakan Kredit Ketahanan Pangan (KKP) dan pada tahun 2007 disempurnakan menjadi Kredit Ketahanan Pangan dan Energi (KKP-E) sampai sekarang.

KKP-E adalah kredit modal kerja dan/atau investasi yang disediakan perbankan dengan subsidi suku bunga oleh Pemerintah. KKP-E dapat digunakan untuk membiayai usaha tanaman pangan, hortikultura, perkebunan utamanya tebu, peternakan dan pengadaan pangan (padi, jagung, dan kedelai.

Suku bunga KKP-E saat ini (periode Oktober-Maret 2013) beban yang dibayar petani 6% per tahun efektif sedangkan selisih suku bungan yang diterima bank disubsidi oleh pemerintah. Kredit KKP-E 100% uang bank dan resiko ditanggung bank, untuk petani yang mengajukan KKP-E harus memiliki jaminan pasar dan agunan tambahan sesuai persyaratan teknis bank pelaksana.

Besarnya indikatif kredit maksimum untuk usaha tani tebu Rp.25 juta per ha dengan jangka waktu sesuai dengan analisa kelayakan usaha yang dikembangkan.

Petani tebu di provinsi Jawa Timur sebagian besar sudah meminjam KKP-E ini dari bank (yaitu BRI, BNI, Mandiri, Bukopin, CIMB Niaga, BII dan BPD Jatim) sejak tahun 2000. Biasayanya petani tebu tergabung dalam kelompok tani atau Koperasi Petani Tebu Rakyat (KPTR) bekerjasama dengan PG/PTPN sebagai penjamin pasar dan penjamin kredit (avalis). Bagi kelompok tani yang mengajukan KKP-E menyusun Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok yang diketahui Dinas Perkebunan dan PG/PTPN sebagai avalisnya terus diajukan kepada bank pelaksanan setempat. Oleh karena itu kami sarankan petani tebu dapat menghubungi Dinas Perkebunan Kabupaten setempat dan PG/PTPN di wilayahnya.

Kredit Usaha Rakyat (KUR) juga merupakan alternatif yang dapat dipinjam dengan pola yang berbeda dengan KKP-E. KUR polanya penjaminan, artinya kredit yang dipinjam diasuransikan kepada Perusahaan Penjamin yang preminta dibayar oleh pemerintah. tetapi suku bunga yang dibayar petani adalah suku bunga komersial. Untuk pinjaman dibawah Rp.20 juta per debitur, suku bunga maksimum 22% per tahun efektif dan pinjaman diatas Rp.20 juta s.d Rp.500 juta suku bhunga maksimum 13% per tahun efektif. Disamping itu juga ada sumber dana dari PKBL BUMN yang dikelola oleh PG/PTPN dengan suku bunga 6% flat per tahun setara dengan 12% per tahun efektif.